AAO BCSC 2024–2025 · Section 11 · Chapter 7 · pp. 101–129

Preoperative Considerations for Cataract Surgery and Improving Refractive Outcomes

Catatan lengkap, sistematis, visual, dan berbasis sumber untuk residen oftalmologi: teknologi IOL, koreksi presbiopia dan astigmatisme, biometri, formula IOL, mata pascarefraktif, anestesi, profilaksis antimikroba, OVD, informed consent, serta pencegahan kesalahan perencanaan operasi.

Identitas sumber dan ruang lingkup

Sumber utama: AAO BCSC 2024–2025, Section 11: Lens and Cataract, Chapter 7 “Preoperative Considerations for Cataract Surgery and Improving Refractive Outcomes”, printed pages 101–129, 30 halaman PDF.

🟦 Konsep/IOL/biometri🟩 Seleksi & interpretasi🟨 Angka penting ujian🟧 Tatalaksana/prosedur🟥 Risiko/komplikasi🟪 Clinical pearl

Prinsip chapter: operasi katarak modern bukan hanya menghilangkan lensa keruh, tetapi juga merencanakan hasil refraksi dengan memilih teknologi IOL, mengukur mata secara akurat, mengoreksi astigmatisme, dan menyesuaikan strategi dengan tujuan visual serta komorbid pasien.

A. Tujuan pembelajaran dan concept map

Tujuan pembelajaran

  • Menjelaskan bahan, bentuk, edge design, dan aberasi optik IOL modern.
  • Membedakan monofokal, monovision, multifokal, EDOF, accommodating, toric, dan adjustable IOL.
  • Menilai total corneal astigmatism dan memilih AK/LRI, toric IOL, atau laser enhancement.
  • Memahami kontribusi AL, K, ACD, LT, WTW, dan ELP terhadap perhitungan IOL.
  • Mencegah refractive surprise pada mata panjang, pendek, berisi silicone oil, atau pascarefraktif.
  • Memilih anestesi dan profilaksis antimikroba sesuai keadaan pasien.
  • Memilih OVD berdasarkan kebutuhan mempertahankan ruang atau melindungi jaringan.
  • Melaksanakan informed consent, postoperative planning, dan surgical time-out secara aman.
Tujuan visual pasien
Kesehatan kornea, makula, saraf, zonula
Biometri & total astigmatisme
Pilih formula, IOL, target refraksi
Anestesi, antisepsis, OVD
Time-out & tracking outcome
Strategi IOL berbasis kebutuhan pasien
Satu fokus
Monofocal bilateral emmetropia atau bilateral myopia.
Rentang fokus
Pseudophakic monovision, MFIOL, EDOF, accommodating.
Astigmatisme
AK/LRI, toric IOL, postoperative laser correction.
Penyesuaian pascaoperasi
Light-adjustable IOL atau teknologi refractive-index shaping.

Angka penting yang harus diingat

≈40%pasien katarak memiliki ≥1.00 D astigmatisme keratometrik praoperatif
>85%dewasa memiliki posterior cornea lebih curam vertikal → efek ATR
0.30–0.50 Drerata posterior corneal astigmatism
3.3%/°kehilangan efek koreksi toric setiap 1° rotasi
>30°misalignment toric meningkatkan astigmatisme
≤0.3 mmperbedaan AL antarmata yang biasanya diharapkan
1 mmkesalahan AL dapat menyebabkan 1.75–3.75 D error, bergantung panjang mata
1.00 Dkesalahan corneal power ≈ kesalahan refraksi postop serupa
20–30%hasil postop dapat meleset dari target hingga 0.50 D
<5%hasil meleset lebih dari 1.00 D

B–E. Teknologi dan karakteristik IOL pp. 101–104

Keberhasilan refractive cataract surgery bergantung pada biometri, teknik dan instrumen operasi, teknologi IOL, formula daya IOL, serta opsi enhancement pascaoperasi. Diskusi praoperatif harus menyelaraskan pilihan lensa dan target refraksi dengan tujuan pasien, sekaligus menilai komorbid yang membatasi centration, alignment, atau kualitas penglihatan.

Table 7-1 — Karakteristik IOL modern

KarakteristikManfaatMakna klinis
FoldableInsisi lebih kecilMengurangi surgically induced corneal astigmatism dan komplikasi luka.
InjectableMeminimalkan paparan IOL terhadap kontaminasi permukaanDapat manual-loaded atau preloaded.
Aspheric opticMengurangi spherical aberrationMeningkatkan contrast sensitivity.
Square posterior optic edgeMenghambat migrasi selMengurangi posterior capsule opacification.
Biconvex opticOptik lebih tipisMendukung insisi lebih kecil.
Acrylic atau siliconeIndeks refraksi tinggiOptik lebih tipis.

Bahan IOL dan situasi khusus

  • Silicone IOL: bersifat hidrofobik dan sesuai untuk sebagian besar pasien, tetapi silicone oil dapat melekat pada permukaan IOL. Pertimbangkan bahan lain bila pasien berisiko membutuhkan vitrektomi dengan silicone oil, misalnya proliferative diabetic retinopathy atau retinal detachment pada fellow eye.
  • Hydrophilic acrylic: postoperative optic calcification dikaitkan dengan paparan air atau gas. Bila akan ada operasi intraokular dengan gas, misalnya endothelial keratoplasty atau vitrectomy, bahan lain dapat dipertimbangkan. Nd:YAG capsulotomy tidak efektif untuk opasifikasi ini; explantation mungkin diperlukan.
  • Hydrophobic acrylic dan silicone: keduanya secara umum sesuai untuk kebanyakan pasien.
Silicone oil droplet on silicone IOL
Figure 7-1, p. 103. Droplet silicone oil melekat pada permukaan posterior 3-piece silicone IOL. Temuan ini menjelaskan alasan menghindari silicone IOL pada mata yang mungkin memerlukan silicone oil.

Geometri optik dan edge design

Desain berkembang dari plano-convex menjadi biconvex. Square posterior optic edge mengurangi PCO dengan menghambat migrasi sel ke belakang optik.

IOL round anterior and square posterior edge
Figure 7-2A. Round anterior edge dan square posterior edge.
IOL square anterior and posterior edge
Figure 7-2B. Square anterior dan posterior edge.

Spherical aberration

  • Mayoritas kornea memiliki positive spherical aberration.
  • IOL spherical generasi lama menambah positive spherical aberration sehingga contrast sensitivity menurun.
  • IOL aspheric modern memiliki spherical aberration 0 sampai sekitar −0.27 μm untuk mengimbangi kornea.
  • Pada kornea pasca hyperopic LASIK atau PRK, spherical aberration sering negatif; IOL dengan zero spherical aberration dapat dipilih agar tidak memperburuk aberasi negatif.
  • IOL yang decentered dan memiliki spherical aberration positif atau negatif akan menginduksi coma.

Filter UV dan blue light

  • Hampir semua IOL modern mengandung UV-absorbing chromophores.
  • Sebagian memiliki blue-light filter sehingga optiknya tampak kuning.
  • Pendukung menyatakan ada potensi proteksi makula/AMD; pihak lain menilai belum ada bukti manfaat.
  • Kekhawatiran teoritis meliputi circadian rhythm serta mesopic/scotopic vision, tetapi belum ada bukti definitif masalah tersebut.

G. Klasifikasi dan strategi koreksi presbiopia pp. 104–108

Monofocal IOL

  • Memberi penglihatan tajam pada satu bidang fokus.
  • Target emmetropia bilateral → membutuhkan kacamata intermediate dan dekat.
  • Target myopia bilateral, sering pada pasien myopia yang ingin near tasks tanpa kacamata → membutuhkan kacamata jarak.
  • Target myopia biasanya −1.50 sampai −3.00 D dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Pseudophakic monovision

StrategiDominant eyeNondominant eyeRentang target
Modified/mini-monovisionEmmetropiaMyopia ringan−0.50 sampai −1.50 D
Traditional monovisionEmmetropiaMyopia lebih besar−1.50 sampai −2.50 D

Multifocal IOL

MFIOL membagi cahaya menjadi dua atau lebih titik fokus melalui refractive optics, diffractive optics, atau kombinasi keduanya. Tersedia bifocal, trifocal, dan toric multifocal dengan variasi add power.

Diffractive optics of multifocal IOL
Figure 7-3, p. 105. Cahaya difokuskan ke fokus dekat dan jarak; sinar yang tidak terfokus di retina berkontribusi terhadap dysphotopsia.
Multifocal IOL
Figure 7-4. Contoh multifocal IOL.
KeuntunganKeterbatasanSeleksi pasienBila ada residual error
Mengurangi ketergantungan kacamata; jarak dan intermediate/dekat. Contrast sensitivity menurun, penglihatan terasa lebih redup, glare, halo terutama mesopic/scotopic, multiple images. Lower-add dapat mengurangi gejala dibanding higher-add. Kesehatan mata sangat baik; hindari atau berhati-hati pada amblyopia, dry eye/kornea, glaucoma/optic nerve, epiretinal membrane, AMD. OCT makula praoperatif sering dilakukan. Bekerja terbaik bilateral dan dengan astigmatisme residual minimal. Kacamata, contact lens, keratorefractive surgery, atau IOL exchange; exchange ideal sebelum capsular fibrosis mempersulit explantation.
💡 Clinical pearl: pasien hyperopia praoperatif dapat lebih toleran terhadap aberasi MFIOL dibanding pasien myopia. Counseling khusus dan specialized consent dianjurkan.

Extended depth of focus IOL

EDOF menggunakan diffractive atau non-diffractive optics untuk membentuk elongated focal range, bukan dua fokus diskret. Rentang terutama dari jarak ke intermediate, dengan glare/halo relatif rendah, tetapi sebagian contrast sensitivity tetap dapat berkurang.

EDOF IOL elongated focus
Figure 7-5, p. 107. Echelette design menciptakan elongated focus.
Monofocal multifocal EDOF comparison
Figure 7-6. Monofocal: satu fokus; multifocal: dua fokus; EDOF: fokus memanjang.
💡 Clinical pearl: mini-monovision EDOF dapat dilakukan dengan nondominant eye sekitar −0.50 D dan dominant eye emmetropia untuk meningkatkan near vision.

Table 7-2 — Contoh presbyopia-correcting IOL di Amerika Serikat

Multifocal/bifocal/trifocalEDOF atau extended-rangeAccommodating
PanOptix Trifocal; ReSTOR; Synergy; TECNIS Multifocal Eyehance*; RayOne EMV*; Symfony; Vivity Crystalens AO

*Memiliki sifat extended depth of focus tetapi tidak memenuhi kriteria FDA untuk EDOF.

Accommodating dan teknologi lain

  • Accommodating IOL dirancang menggunakan hinged haptics untuk bergerak selama accommodation, tetapi belum ada bukti klinis jelas bahwa posisi aksial benar-benar berubah saat melihat dekat.
  • Perbaikan intermediate vision mungkin berasal dari pseudoaccommodative depth of focus.
  • Teknologi lain: EDOF dengan pinhole effect dan fluid-filled accommodating lens yang berubah bentuk/kuat refraksi karena kontraksi otot siliaris.

IOL yang dapat disesuaikan pascaoperasi

  • Light-adjustable IOL: disinari UV terarah untuk mengubah bentuk dan daya, sehingga spherical dan cylindrical error dapat dikoreksi setelah implantasi.
  • Refractive index shaping: femtosecond laser mengubah hydrophilicity dan refractive index IOL; masih dalam pengembangan.

C, F. Modifikasi astigmatisme praoperatif pp. 108–110

🟨 Fakta utama: sekitar 40% pasien katarak memiliki ≥1.00 D preoperative keratometric astigmatism. Residual astigmatism hanya 0.50 D dapat menurunkan distance VA setelah MFIOL.

Komponen astigmatisme

Refractive astigmatism
=
Total corneal astigmatism
+
Lenticular astigmatism

Lenticular astigmatism dari katarak hilang saat lensa diangkat. Karena itu, koreksi saat operasi harus menargetkan total corneal astigmatism = anterior + posterior corneal astigmatism.

Anterior dan posterior cornea

  • Anterior corneal astigmatism cenderung berubah dari WTR menuju ATR seiring usia.
  • Posterior corneal astigmatism relatif tidak berubah dengan usia.
  • Pada >85% dewasa, posterior cornea lebih curam di meridian vertikal.
  • Karena posterior cornea adalah minus lens, hal ini menghasilkan net plus refractive power horizontal → menambah ATR astigmatism.
  • Rata-rata posterior corneal astigmatism sekitar 0.30–0.50 D, dengan variasi besar.
  • Mengukur anterior cornea saja cenderung overestimate WTR dan underestimate ATR.

Pengukuran

ModalitasPermukaan yang dinilaiKekuatanKeterbatasan
Manual/automated keratometryAnteriorAkurasinya baik untuk pusat; sederhanaTidak menilai posterior; irregular/ectasia dapat terlewat
Placido topographyAnteriorIrregular astigmatism, early keratoconusTidak mengukur posterior langsung
Scheimpflug tomographyAnterior, posterior, pachymetryTotal corneal evaluationPengukuran posterior tetap menantang
OCTAnterior, posterior, thicknessResolusi aksial tinggi; bermanfaat pada opacityPerlu interpretasi dan konsistensi alat
LED-based devicesPosterior dapat diestimasi/diukurData tambahan toric planningPerlu validasi dan optimasi calculator

Memasukkan posterior cornea dalam kalkulasi

  1. Formula menggunakan anterior astigmatism lalu memprediksi posterior berdasarkan model.
  2. Posterior corneal astigmatism diukur langsung dan dimasukkan ke toric calculator, misalnya Barrett toric calculator.

Pilihan koreksi

  • Astigmatic/arcuate keratotomy.
  • Limbal relaxing incision.
  • Toric IOL.
  • Postoperative laser vision correction.

Surgically induced astigmatism

  • SIA harus dimasukkan sebagai centroid/vectorial average dalam toric calculator.
  • Insisi temporal clear corneal 2.4 mm memiliki centroid sekitar 0.10 D flattening pada meridian insisi, tetapi nilai individual dapat sangat bervariasi.
  • Surgeon dapat memakai centroid SIA pribadi dari seri kasus sendiri.
  • Bila diperlukan insisi lebih besar, menempatkannya pada steep meridian dapat membantu mengurangi astigmatisme.

Table 7-3 — Corneal relaxing incisions vs toric IOL

AspekCorneal relaxing incisionsToric IOL
KeuntunganDapat sebelum, saat, atau sesudah operasi; manual/femtosecond; dapat dibuka kemudian untuk titrasi; berguna bila toric placement sulit.Mudah mengoreksi astigmatisme lebih tinggi, umumnya dipilih untuk >~1.00 D; sedikit tambahan teknik di luar implantasi standar.
KeterbatasanRespons kornea variabel, kurang akurat terutama pada koreksi tinggi; neuropathy; irregular astigmatism; wound gape, ectasia, long-term instability; learning curve.Biaya; rotasi dapat memerlukan reoperasi; over/undercorrection berdasarkan prediksi daya.

Astigmatic keratotomy dan limbal relaxing incision pp. 110–111

Corneal relaxing incisions
Figure 7-7, p. 111. LRI di perifer; anterior penetrating AK dan intrastromal AK pada optical zone 7–10 mm.

Astigmatic/arcuate keratotomy

  • Single atau paired.
  • Ditempatkan pada steep meridian, biasanya optical zone 7–10 mm.
  • Terlalu dekat visual axis → glare dan irregular astigmatism.
  • Dapat dibuat blade atau femtosecond.
  • Femtosecond mengatur arc length, optical zone, depth.
  • Anterior-penetrating AK dapat dibuka kemudian untuk titrasi.
  • Intrastromal AK tidak menembus epitel.

Limbal relaxing incision

  • Single atau paired, di kornea perifer dekat limbus.
  • Lebih perifer daripada AK → risiko glare/irregular astigmatism lebih rendah.
  • Harus lebih panjang untuk efek yang sama.
  • Sering menggunakan diamond blade.
  • Dapat menyatu dengan cataract incision atau dibuat terpisah.
  • Dapat dilakukan pascaoperasi di office setting.

Coupling: partial-thickness arcuate incision meratakan steep meridian dan meningkatkan curvature 90° di seberangnya tanpa mengubah spherical equivalent cornea secara bermakna.

Toric IOL pp. 112–114

  • Ditujukan untuk regular corneal astigmatism.
  • Di Amerika Serikat tersedia sekitar 1.00–4.00 D koreksi corneal astigmatism.
  • Accommodating, multifocal, dan EDOF tersedia dalam versi toric.
  • Pastikan orientasi dan magnitude dari optical biometry sesuai dengan topography/tomography dan singkirkan irregular astigmatism atau ectasia.

Alignment

  • Marking dilakukan ketika pasien duduk tegak untuk mencegah error akibat cyclotorsion saat supine.
  • Dapat menggunakan horizontal/vertical reference marks, intended axis marking di slit lamp, marking devices, smartphone apps, atau intraoperative alignment systems.
  • IOL diputar dalam capsular bag sehingga axis marking sejajar dengan calculated steep corneal meridian.
Toric IOL in vivo
Figure 7-8, p. 113. Axis markings toric IOL sejajar dengan calculated steep corneal meridian.
🟥 Rotasi: setiap 1° menjauh dari meridian optimal mengurangi koreksi 3.3%. Misalignment >30° meningkatkan astigmatic refractive error. Repositioning dipertimbangkan dini sebelum capsular fibrosis.

Table 7-4 — Faktor risiko rotasi toric IOL

AnatomisIntraoperatifPostoperatif
Long axial length; high myopia; large capsular bag; WTR corneal astigmatism. OVD tertinggal di belakang IOL; incomplete anterior capsular overlap; polishing anterior capsule; low spherical IOL power/thin optic. Incision leakage; ocular trauma; vigorous physical activity.

Pencegahan dan faktor tambahan

  • Complete overlap anterior capsular rim dengan optic diinginkan.
  • Sebagian surgeon tidak memoles anterior capsule untuk meningkatkan adhesi.
  • OVD, termasuk di belakang IOL, harus dikeluarkan lengkap.
  • Capsular tension ring mungkin mengurangi rotasi pada kasus risiko tinggi.
  • IOL tilt juga menginduksi astigmatisme; horizontal tilt sekitar vertical meridian dapat menghasilkan ATR astigmatism. Efek lebih besar bila tilt atau daya IOL lebih tinggi.
  • Intraoperative wavefront aberrometry dapat menilai aphakic refraction dan memastikan alignment; IOL dapat diputar atau ditukar segera bila daya tidak tepat.

I. Pengukuran praoperatif pp. 114–117

Parameter utama

Formula modern menggunakan AL dan corneal power, dan dapat memasukkan ACD, lens thickness, serta WTW. Intraoperative aberrometry dapat membantu pada anak atau pasien dewasa yang tidak dapat kooperatif untuk office-based testing.

Axial length

AL mataError refraksi akibat kesalahan AL 1 mm
30 mm≈1.75 D
23.5 mm≈2.35 D
20 mm≈3.75 D
  • Ukur kedua mata walau hanya satu yang dioperasi.
  • Perbedaan antarmata biasanya ≤0.3 mm; nilai lebih besar harus dijelaskan oleh refraksi/temuan okular atau dicurigai sebagai error.

Optical biometry

  • Noncontact; memakai IR laser dan partial coherence interferometry, swept-source OCT, atau optical low-coherence reflectometry.
  • Dapat mengukur AL, K, ACD, LT, WTW.
  • Fixation target menghasilkan AL sepanjang visual axis.
  • Semakin mampu menembus dense cataract.
  • Lebih baik pada posterior staphyloma dan lebih disukai daripada ultrasound bila memungkinkan.
  • Ultrasound diperlukan bila media terlalu keruh atau fixation tidak memungkinkan.

A-scan ultrasonography

Transit time pulse dihitung menggunakan kecepatan rata-rata pada kornea, aqueous, lensa, dan vitreous. Dapat dilakukan immersion atau contact applanation. Immersion mengurangi corneal compression dan lebih mudah menyelaraskan visual axis pada infusion shell.

Immersion A-scan diagram
Figure 7-9A. Probe terendam dalam cairan dan tidak menekan kornea.
Immersion A-scan in patient
Figure 7-9A clinical view. Immersion ultrasonography pada pasien.
Prager immersion shell
Figure 7-9B. Prager shell.
Ultrasound probe and Kohn shell
Figure 7-9C. Ultrasound probe dan Kohn shell.
💡 Silicone oil pearl: kecepatan suara silicone oil 980 atau 1040 m/s (tergantung viskositas), sedangkan vitreous 1532 m/s. Tanpa koreksi, transit time lebih panjang menghasilkan AL terlalu panjang dan pemilihan IOL terlalu rendah → hasil hyperopic. Indeks refraksi silicone oil yang lebih tinggi juga harus diperhitungkan.

Corneal power

🟨 Angka: error 1.00 D pada corneal power menghasilkan error refraksi postop dengan besar serupa.
  • Optimalkan ocular surface dan hilangkan contact lens warpage sebelum pengukuran.
  • Umumnya beberapa minggu bebas RGP; soft lens membutuhkan waktu lebih singkat, bergantung praktik surgeon.
  • Posterior corneal curvature penting untuk toric IOL dan mencegah refractive surprise.
MetodeDetailKegunaan
Manual keratometryMengukur pusat 3.2 mm dari ukuran reflected image; memerlukan operator terampil; anterior saja dan mengasumsikan hubungan tetap dengan posterior.Dapat melihat tear-film irregularity dan corneal irregularity secara langsung.
TopographyMembuat contour map; Placido terutama anterior.Irregular astigmatism dan early keratoconus.
TomographyScheimpflug/OCT menilai anterior, posterior, dan thickness.Pascarefraktif, astigmatism correction, nilai di luar rentang tipikal; OCT berguna pada opacity.

Anterior chamber depth dan effective lens position

Dahulu ACD diperlakukan sebagai konstanta dalam A-constant. Formula modern memprediksi ELP menggunakan kombinasi ACD, AL, LT, dan corneal power. Perbedaan bermakna antara predicted ELP dan final IOL position menyebabkan refractive surprise.

Perhitungan daya IOL pp. 117–118

Classic SRK formula

P = A − (2.5 × L) − (0.9 × K)
PDaya IOL untuk emmetropia, dalam diopter
LAxial length, mm
KRerata keratometry, D
AKonstanta spesifik implant

Formula ini tidak rutin digunakan sekarang, tetapi menunjukkan bahwa error kecil AL berdampak lebih besar daripada error kecil K.

Akurasi dan konseling

  • 20%–30% hasil postop meleset dari target hingga 0.50 D.
  • <5% meleset lebih dari 1.00 D.
  • Tantangan terbesar: mata pascarefraktif, axial myopia, dan axial hyperopia.
  • Pasien harus memahami formula tidak sempurna dan refractive enhancement mungkin diperlukan.

Formula historis dan modern

KategoriFormula
RegressionSRK, SRK II
VergenceHolladay 1, SRK/T, Hoffer Q, Haigis, Holladay 2, Barrett Universal II
Artificial intelligenceHill-RBF 3.0, Kane
Ray tracingOlsen
  • Secara historis Hoffer Q digunakan pada mata pendek; SRK/T dan Haigis pada mata panjang.
  • Formula modern menggabungkan AI, ray tracing, theoretical optics, dan regression; dapat memerlukan usia, ACD, dan LT.
  • Barrett Universal II dan Kane berkinerja sangat baik dalam studi besar.
  • Banyak surgeon membandingkan beberapa formula; platform ESCRS dapat menghitung Barrett Universal II, EVO, Hill-RBF 3.0, dan Kane sekaligus.

Perhitungan setelah refractive surgery pp. 118–119

🟥 Risiko refractive surprise tertinggi: prior RK, kemudian prior hyperopic LVC, lalu prior myopic LVC.
  • Identifikasi postrefractive cornea dengan topography/tomography.
  • Pasien sering memiliki ekspektasi bebas kacamata yang tinggi; diskusi dan dokumentasi risiko sangat penting.
  • Opsi koreksi surprise: kacamata, contact lens, refractive surgery, atau IOL exchange.

Mekanisme kesalahan

  • Central curvature berubah sehingga anterior corneal power tidak diukur akurat.
  • Standard keratometric refractive index 1.3375 tidak lagi tepat setelah LVC.
  • Setelah myopic LVC, conventional K meng-overestimate corneal power → hasil hyperopic.
  • Setelah hyperopic LVC, terjadi kebalikan.
  • Setelah RK, posterior cornea dapat lebih flat relatif terhadap anterior → overestimate corneal power dan hasil hyperopic.
  • Formula yang memakai corneal power untuk estimasi ELP juga menjadi salah tanpa penyesuaian.

Strategi

  • Metode lama memakai historical K dan perubahan manifest refraction (ΔMR).
  • Metode baru memakai current corneal power + ΔMR atau tanpa historical data.
  • Topography/tomography modern menilai anterior dan posterior.
  • Intraoperative aberrometry memakai aphakic refraction.
  • Belum ada satu metode ideal; gunakan konsensus beberapa teknik.
  • Berikan bobot lebih pada Barrett True-K No-History dan OCT-based formulas.
  • ASCRS calculator menjalankan beberapa metode sekaligus.

Expected IOL placement dan tracking refractive outcomes p. 120

Efek posisi IOL

In-the-bag
→ lebih anterior
Sulcus
→ lebih anterior
Anterior chamber
Daya IOL yang diperlukan semakin rendah
  • ACIOL umumnya sekitar 3.00 D lebih rendah daripada PCIOL in-the-bag yang direncanakan, dengan variasi pada ekstrem AL.
  • Sulcus placement memerlukan adjustment berdasarkan daya rencana dan AL.
  • Sulcus + optic capture tidak memerlukan adjustment karena optik efektif berada pada posisi bag.
  • Gunakan 3-piece IOL yang stabil dan memiliki angulasi tepat di sulcus.
  • One-piece IOL di sulcus berisiko uveitis-glaucoma-hyphema syndrome.

Table 7-6 — Penyesuaian daya untuk sulcus

Daya yang dihitung untuk bagAdjustment sulcus
+28.50 sampai +30.00 DKurangi 1.50 D
+17.50 sampai +28.00 DKurangi 1.00 D
+9.50 sampai +17.00 DKurangi 0.50 D
+5.00 sampai +9.00 DTidak berubah

Tracking outcome

  • Overcorrection/undercorrection dan kaitannya dengan mata panjang atau pendek.
  • Apakah insisi rutin menginduksi cylinder.
  • Apakah toric IOL mengoreksi sesuai kalkulasi.
  • Efektivitas LRI.
  • Hasil dapat digunakan untuk surgeon factor atau mengganti software/formula.

Anestesi operasi katarak pp. 121–123

Jenis anestesi, manfaat, risiko, dan pengalaman pasien harus dibahas dalam informed consent.

Retrobulbar

  • Memberi excellent akinesia, anesthesia, dan menurunkan sensitivitas terhadap microscope light.
  • Teknik klasik: lidocaine ke muscle cone melalui blunt needle 25-gauge, 1.5 inch/38 mm.
  • Modifikasi umum: sharp needle 27-gauge, 1.25 inch, dengan hyaluronidase, bupivacaine, kadang bicarbonate.
  • Dokumentasikan diplopia atau misalignment praoperatif.
Komplikasi: retrobulbar hemorrhage, globe penetration, optic nerve trauma, extraocular muscle toxicity, IV injection dengan arrhythmia, intradural injection dengan seizure, respiratory arrest, atau brainstem anesthesia.
Retrobulbar injection
Figure 7-10, p. 121. Retrobulbar injection.

Peribulbar

  • Secara teoritis mengurangi optic nerve injury dan intradural injection.
  • Sedikit kurang efektif untuk akinesia/anesthesia dan lebih sering menyebabkan chemosis.
  • Needle 25- atau 27-gauge, panjang 1 inch; anestetik eksternal muscle cone di bawah Tenon.

Sub-Tenon

  • Incision kecil melalui conjunctiva dan Tenon yang telah dianestesi; blunt cannula mengirim anestetik posterior.
  • Risiko muscle injury/toxicity lebih rendah.
  • Akinesia mungkin tidak selengkap retrobulbar.
Periocular anesthetic spaces
Figure 7-11A, p. 122. Subconjunctival, Sub-Tenon, dan retrobulbar spaces.
Sub-Tenon lidocaine injection
Figure 7-11B. Sub-Tenon lidocaine injection.

Topical dan intracameral

AspekIsi
Topical agentsProparacaine atau tetracaine drops, soaked cellulose pledgets, atau lidocaine jelly.
PrecautionLidocaine jelly jangan menghambat kontak povidone-iodine dengan permukaan.
IntracameralPreservative-free lidocaine; dapat dicampur mydriatic untuk meningkatkan dilatasi dan mengurangi IFIS.
KonsentrasiHanya nonpreserved lidocaine 1% atau 2% untuk anterior chamber.
KeuntunganTidak ada risiko ocular perforation, EOM injury, CNS depression; recovery cepat.
KeterbatasanBlepharospasm, durasi terbatas, tidak ada akinesia, discomfort.
Pasien idealOperasi singkat umumnya <30 menit, kooperatif, dilatasi baik, toleran microscope light.

Facial nerve block

  • Untuk essential/reactive blepharospasm dan squeezing.
  • O’Brien: proximal dan peripheral pada nerve trunk.
  • Van Lint: proximal dan peripheral pada terminal branches.
  • Atkinson: di antara kedua region tersebut.
Facial nerve blocks
Figure 7-12, p. 123. Van Lint (A), O’Brien (B), dan Atkinson (C) akinesia.

Sedasi dan general anesthesia

  • Conscious IV/oral sedation: midazolam atau fentanyl; oral diazepam atau sublingual midazolam/ketamine/ondansetron.
  • General anesthesia: pediatric, dementia, tremor kepala, tuli, language barrier, musculoskeletal disorder, restless legs, claustrophobia, psychiatric disorder/anxiety, ketidakmampuan berbaring/kooperasi, atau preferensi pasien.
  • Dapat memerlukan clearance dokter primer atau anesthesiologist.

Antimicrobial therapy dan pencegahan endophthalmitis pp. 123–125

Sebelum operasi

  • Terapi conjunctivitis, blepharitis, hordeolum, chalazion, dan systemic infection.
  • Operasi katarak tidak dianggap menimbulkan transient bacteremia; systemic antibiotic prophylaxis tidak diperlukan.
  • Preoperative topical antibiotics dapat menurunkan bacterial count dan positive aqueous culture, tetapi bukti penurunan endophthalmitis rutin belum meyakinkan.
  • Riwayat herpetic eye disease: prophylactic antiviral dapat dipertimbangkan.

Di ruang operasi

  • 5% povidone-iodine solution di conjunctival fornix menurunkan bacterial colony dan culture-proven endophthalmitis.
  • 10% povidone-iodine untuk kulit periokular dan lid margin.
  • Eyelashes harus diisolasi dari surgical field.
  • Verifikasi sensitivity; chlorhexidine memerlukan kehati-hatian karena ocular toxicity.
  • Batasi instrument entry dan periksa lint/cilia/debris.
  • Meticulous wound closure penting.
  • Risiko meningkat pada posterior capsule tear, vitreous loss, dan prolonged surgery.
Sterile draping
Figure 7-13, p. 124. Drape diselipkan mengelilingi bulu mata untuk mengisolasi lid margin dari field.

Intracameral antibiotics

AgenInformasi sumberRisiko/ketentuan
MoxifloxacinPaling umum di AS; target final aqueous 0.1%–0.15%. Biasanya 0.5 mL dari 1 mg/mL (0.1%) atau 0.1 mL dari 5 mg/mL (0.5%), bergantung AC volume.Harus preservative/additive-free; hindari xanthan gum, tyloxapol, sorbitol karena TASS. Laporan pigment dispersion dan diffuse iris depigmentation.
VancomycinDahulu sering digunakan.Rare blinding hypersensitivity: hemorrhagic occlusive retinal vasculitis.
CefuroximeESCRS menunjukkan penurunan signifikan endophthalmitis.Belum universal di AS karena tidak ada produk intracameral komersial yang tersedia luas.

Dropless surgery

  • Subconjunctival corticosteroid dapat dipakai bersama intracameral antibiotic.
  • Bolus antibiotic + corticosteroid dapat diberikan transzonular atau intravitreal agar bekerja pascaoperasi.
  • Bermanfaat untuk pasien dengan masalah compliance atau biaya.

Luka dan terapi pascaoperasi

  • Stromal hydration dapat mengaproksimasi bagian anterior dan posterior luka.
  • Jika ada kemungkinan leakage, lakukan suture closure.
  • Kebutuhan postoperative topical antibiotic setelah intracameral antibiotic masih diperdebatkan; belum ada bukti definitif menurunkan endophthalmitis.

Ophthalmic viscosurgical devices pp. 126–128

Komposisi

SubstansiSifat/sumberCatatan
Sodium hyaluronateBiopolymer pada connective tissue, synovial fluid, vitreousHalf-life ≈1 hari di aqueous dan 3 hari di vitreous.
Chondroitin sulfateSulfated glycosaminoglycan, komponen cartilageDigunakan dalam kombinasi tertentu.
HPMCCellulose polymer nonfisiologis yang dimodifikasi menjadi hydrophilicTidak tampak dimetabolisme; dieliminasi dalam aqueous dan mudah diirigasi.

Empat sifat fisik

Viscosity

Resistensi terhadap flow; terutama ditentukan molecular weight dan concentration. Viscosity tinggi lebih baik untuk mendesak jaringan dan tetap di tempat.

Elasticity

Kemampuan kembali ke bentuk awal setelah stress; penting untuk menjaga ruang.

Pseudoplasticity

Berubah dari viscous saat diam menjadi watery pada shear tinggi; seperti toothpaste. Pada zero shear melapisi jaringan, saat lewat cannula kecil mengalir seperti cairan.

Surface tension / coatability

Coatability berbanding terbalik dengan surface tension. Surface tension rendah → coating lebih baik, tetapi lebih sulit dikeluarkan.

Cohesive vs dispersive

KarakteristikCohesiveDispersive
Rantai/MW/viscosityLong-chain, high MW, high viscosityShort-chain, low MW, low viscosity, low surface tension
Fungsi utamaSpace maintenanceCoating dan tissue protection
Pada high shearMudah displacedTetap melapisi
RemovalMudah, “spaghetti” panjangSulit, fragmen “macaroni”
Risiko tertinggalLebih rendahLebih tinggi → angle obstruction dan IOP rise
ContohAmvisc, Amvisc Plus, Healon GV, Healon Pro, ProViscClearVisc, OcuCoat, Healon EndoCoat, Viscoat

Combination: DisCoVisc memiliki sifat dispersive dan cohesive.

Dispersive
coat & protect
Combination
balanced behavior
Cohesive
maintain space

Skema Figure 7-14: ke kiri makin liquid dan lebih baik coating/partition; ke kanan makin solid dan lebih baik mempertahankan space/pressure.

Viscoadaptive

  • Healon5: long fragile chain, high MW, perilaku berubah sesuai flow rate.
  • Flow rendah → viscous dan cohesive; flow tinggi → chain fracture dan bertindak pseudodispersive.
  • Harus dikeluarkan teliti karena dapat menyebabkan IOP sangat tinggi bila tertinggal.

Kegunaan intraoperatif

  • Menjaga anterior chamber meskipun ada corneal incision.
  • Menjauhkan lens fragments dari endothelium dan posterior capsule.
  • Cohesive: viscomydriasis dan meratakan bidang anterior capsule untuk CCC terkontrol.
  • Mengembangkan capsular bag untuk implantasi yang lebih aman bagi zonula dan posterior capsule.
  • Dispersive: melindungi endothelium dari phaco energy, khususnya dense cataract/operasi lama.
  • Pada posterior capsule tear, dispersive OVD menutupi tear, menahan vitreous, dan mencegah prolapse anterior.
  • Lapisan OVD pada kornea mencegah drying, mengurangi kebutuhan irigasi, dan memberi sedikit magnification.
  • 97% surgeon dalam survei mengubah pilihan OVD pada kasus sulit; situasi penting: pediatric cataract, low endothelial count, shallow AC, IFIS.

Pencegahan kesalahan dalam perencanaan operasi p. 129

Verifikasi nama & mata
Tinjau K, AL, biometri
Pastikan model & daya IOL
Siapkan bag/sulcus/ACIOL plan
Double-check hari operasi
Team time-out
  • Konfirmasi irregularities pada corneal readings, AL, dan parameter biometri lain.
  • Catat manufacturer model number dan daya IOL.
  • Pilih opsi untuk capsular bag, sulcus, dan anterior chamber.
  • Surgeon memeriksa ulang kalkulasi dan implant pada hari operasi.
  • Time-out mengonfirmasi identitas, operative eye yang ditandai jelas, prosedur, dan IOL.
  • Checklist memastikan kesehatan umum, concerns okular, IOL tersedia, dan special supplies siap.

Algoritma praktis

1. Pemilihan IOL

Tentukan goal jarak/intermediate/dekat
Nilai cornea, macula, optic nerve, zonula
Monofocal/monovision vs MFIOL/EDOF
Nilai astigmatisme & toric need
Counseling limitasi & enhancement

2. Koreksi astigmatisme

Konfirmasi regularity dengan topo/tomo
Hitung total corneal + posterior
Masukkan SIA
Low amount: AK/LRI
atau
Higher amount: toric IOL

3. Biometri

Stabilkan ocular surface/contact lens holiday
Optical biometry kedua mata
Cek AL disparity & K consistency
Pascarefraktif/silicone oil: formula khusus
Bandingkan beberapa formula

4. Antisepsis dan antibiotic

Terapi lid/systemic infection
5% PI fornix + 10% PI kulit
Isolasi lashes
Meticulous wound closure
Intracameral antibiotic sesuai formulasi/dosis

5. Pemilihan OVD

Butuh mempertahankan ruang?
Cohesive
|
Butuh coating/endothelial protection?
Dispersive
Pastikan removal lengkap

🚨 RED FLAGS

  • Pascarefraktif tanpa formula khusus → refractive surprise.
  • Silicone oil eye tanpa velocity/index adjustment → AL terlalu panjang dan hyperopic result.
  • Irregular astigmatism/ectasia → bukan kandidat ideal toric IOL atau relaxing incision tanpa evaluasi mendalam.
  • Toric IOL rotation; >30° meningkatkan astigmatisme.
  • One-piece IOL di sulcus → risiko UGH syndrome.
  • OVD dispersive/Healon5 tertinggal → IOP elevation berat.
  • Intracameral moxifloxacin dengan additives atau dosis salah → TASS.
  • Intracameral vancomycin → risiko HORV.
  • Active lid, conjunctival, nasolacrimal, atau systemic infection.
  • Posterior capsule rupture, vitreous loss, atau prolonged surgery → risiko endophthalmitis meningkat.
  • Pasien tidak mampu kooperasi atau berbaring tetapi tetap direncanakan topical anesthesia.

Clinical pearls, mnemonik, dan kesalahan umum

💡 Clinical pearls

  • “Premium” IOL membutuhkan premium-quality ocular surface, macula, centration, dan astigmatism control.
  • Posterior cornea hampir selalu menambahkan komponen ATR.
  • Marking toric dilakukan saat upright untuk menghindari cyclotorsion error.
  • Reposition toric lebih mudah sebelum capsular fibrosis.
  • Periksa kedua AL walau operasi satu mata.
  • Optical biometry lebih disukai; ultrasound untuk opacity/fixation failure.
  • Gunakan beberapa formula, terutama pada ekstrem AL atau mata pascarefraktif.
  • Bag → sulcus → ACIOL berarti implant semakin anterior dan daya yang dibutuhkan lebih rendah.
  • Dispersive melindungi, cohesive mempertahankan ruang.
  • Povidone-iodine adalah komponen antisepsis yang paling terdukung.

🟨 Mnemonik berbasis konsep

“BAG-SULCUS-AC = POWER DOWN”: semakin anterior lokasi IOL, semakin rendah daya implant.

“D-C” OVD: Dispersive = Drape/coating; Cohesive = Chamber maintenance.

“3.3 per Degree”: rotasi toric kehilangan 3.3% koreksi per derajat.

Mnemonik adalah alat bantu memori dan tidak menggantikan detail klinis.

Kesalahan umum

  • Memilih MFIOL/EDOF tanpa OCT makula atau optimasi dry eye.
  • Mengabaikan posterior corneal astigmatism.
  • Menggunakan K tunggal tanpa topography/tomography pada astigmatisme tidak konsisten.
  • Tidak menyesuaikan ultrasound pada silicone oil eye.
  • Tidak mengecek inter-eye AL discrepancy.
  • Menganggap satu formula akurat untuk semua mata.
  • Tidak mengubah daya IOL saat bag plan berubah menjadi sulcus.
  • Menempatkan one-piece IOL di sulcus.
  • Tidak mengeluarkan OVD dari belakang toric IOL.
  • Menggunakan intracameral preparation yang mengandung additives.
  • Melewatkan team time-out dan verifikasi model/daya IOL.

Q. Active recall

10 pertanyaan singkat

1. Bahan IOL modern utama?

Acrylic atau silicone; acrylic dapat hydrophobic atau hydrophilic.

2. Mengapa square posterior edge penting?

Menghambat migrasi sel dan mengurangi PCO.

3. Rentang mini-monovision?

Sekitar −0.50 sampai −1.50 D pada nondominant eye.

4. Berapa pasien katarak dengan ≥1.00 D astigmatisme?

Sekitar 40%.

5. Rerata posterior corneal astigmatism?

Sekitar 0.30–0.50 D.

6. Efek rotasi toric per derajat?

Kehilangan 3.3% koreksi per 1°.

7. Batas AL disparity yang biasanya diharapkan?

Tidak lebih dari sekitar 0.3 mm.

8. Target final intracameral moxifloxacin?

0.1%–0.15% dalam aqueous.

9. OVD apa paling baik mempertahankan ruang?

Cohesive.

10. OVD apa paling baik melapisi endothelium?

Dispersive.

5 kasus klinis

Kasus 1: Myope tinggi, AL 29.5 mm, ingin toric IOL.

Konfirmasi total corneal astigmatism, pertimbangkan risiko capsular bag besar dan rotasi; pastikan overlap capsule, keluarkan OVD, dan follow-up alignment.

Kasus 2: Prior myopic LASIK dan K konvensional.

K konvensional meng-overestimate corneal power sehingga berisiko hyperopic surprise; gunakan Barrett True-K/OCT-based/multiple methods.

Kasus 3: Silicone oil-filled eye diukur A-scan tanpa koreksi.

AL akan tampak terlalu panjang karena kecepatan suara lebih rendah; IOL terlalu rendah dan hasil menjadi hyperopic.

Kasus 4: Posterior capsule rupture, IOL bag +24 D harus ke sulcus.

Menurut Table 7-6, kurangi 1.00 D → sekitar +23 D; bila optic capture, tidak perlu adjustment.

Kasus 5: Pasien dementia dan tremor kepala.

Topical anesthesia saja tidak ideal; pertimbangkan general anesthesia setelah evaluasi sistemik/anestesi.

5 pertanyaan “mengapa”

Mengapa silicone IOL dihindari pada calon silicone oil?

Silicone oil dapat melekat pada optik dan menurunkan kualitas visual.

Mengapa posterior cornea menambah ATR?

Posterior cornea adalah minus lens dan pada mayoritas dewasa lebih curam vertikal, menghasilkan net plus power horizontal.

Mengapa marking toric dilakukan upright?

Untuk menghindari misalignment akibat cyclotorsion saat pasien supine.

Mengapa corneal surface harus stabil sebelum K?

Tear-film irregularity dan contact-lens warpage menyebabkan K tidak akurat dan refractive surprise.

Mengapa dispersive OVD dapat menaikkan IOP?

Lebih sulit dikeluarkan, tertinggal sebagai fragmen dan menghambat angle outflow.

5 diagnosis/seleksi banding

MFIOL vs EDOF?

MFIOL memiliki ≥2 fokus diskret dan near lebih kuat tetapi lebih banyak dysphotopsia; EDOF memiliki elongated focus terutama jarak–intermediate dengan dysphotopsia lebih rendah.

AK vs LRI?

AK lebih sentral dan lebih kuat tetapi risiko glare/irregularity lebih tinggi; LRI lebih perifer, perlu incision lebih panjang dan cenderung lebih aman optik.

Relaxing incision vs toric IOL?

Relaxing incision lebih fleksibel tetapi kurang reproducible; toric lebih baik untuk astigmatisme lebih tinggi tetapi dapat berotasi.

Optical biometry vs A-scan?

Optical lebih disukai, noncontact, visual-axis aligned; A-scan untuk media opak/fixation failure.

Cohesive vs dispersive?

Cohesive menjaga ruang dan mudah dikeluarkan; dispersive melapisi/melindungi tetapi sulit dikeluarkan.

5 terapi, dosis, dan monitoring

Dosis intracameral moxifloxacin yang disebut?

0.5 mL larutan 1 mg/mL (0.1%) atau 0.1 mL larutan 5 mg/mL (0.5%), disesuaikan AC volume; target akhir 0.1%–0.15%.

Apa yang dimonitor pada toric IOL?

Alignment, residual cylinder, incision leakage, trauma/aktivitas, dan tanda rotasi dini.

Apa yang dimonitor setelah dispersive OVD?

IOP elevation akibat retained OVD.

Apa yang harus dipastikan sebelum MFIOL?

Ocular surface, macula, optic nerve, centration/zonula, dan astigmatisme residual minimal.

Apa yang harus diverifikasi saat time-out?

Identitas pasien, operative eye, prosedur, model dan daya IOL.

S. One-Page Review

IOL

  • Modern: foldable, injectable, biconvex, aspheric, square posterior edge.
  • Silicone oil ↔ hindari silicone IOL.
  • Gas exposure ↔ waspadai hydrophilic acrylic calcification.
  • Monofocal, monovision, MFIOL, EDOF, accommodating, toric, adjustable.

Astigmatisme

  • 40% memiliki ≥1 D.
  • Posterior cornea memberi ATR, rata-rata 0.30–0.50 D.
  • AK/LRI untuk jumlah rendah; toric sering dipilih >~1 D.
  • Rotasi toric: 3.3% loss per degree.

Biometri dan formula

  • AL, K, ACD, LT, WTW → ELP dan daya IOL.
  • Inter-eye AL umumnya beda ≤0.3 mm.
  • 1 mm AL error → 1.75–3.75 D refractive error.
  • Barrett Universal II dan Kane sangat akurat secara umum.
  • Pascarefraktif: multiple methods, Barrett True-K/OCT-based.

Keselamatan

  • 5% povidone-iodine fornix, 10% kulit.
  • Moxifloxacin intracameral harus additive-free dan dosis tepat.
  • Cohesive = ruang; dispersive = proteksi.
  • Consent rinci, adherence plan, time-out dan double-check IOL.

Referensi yang dikutip dalam chapter

  1. Downie LE, Busija L, Keller PR. Blue-light filtering intraocular lenses for protecting macular health. Cochrane Database Syst Rev. 2018;5(5).
  2. Srinivasan S. Intraocular lens opacification: What have we learned so far. J Cataract Refract Surg. 2018;44(11):1301–1302.
  3. Hayashi K, Ogawa S, Manabe S, Yoshimura K. Binocular visual function of modified pseudophakic monovision. Am J Ophthalmol. 2015;159(2):232–240.
  4. Schallhorn JM, Pantanelli SM, Lin CC, et al. Multifocal and accommodating intraocular lenses for presbyopia. Ophthalmology. 2021;128(10):1469–1482.
  5. Cochener B; Concerto Study Group. Clinical outcomes of a new extended range of vision IOL. J Cataract Refract Surg. 2016;42(9):1268–1275.
  6. Dhital A, Spalton DJ, Gala KB. Near vision, IOL movement, and depth of focus with accommodating IOLs. J Cataract Refract Surg. 2013;39(12):1872–1878.
  7. Dick HB, Gerste RD. Future intraocular lens technologies. Ophthalmology. 2021;128(11):e206–e213.
  8. Sahler R, Bille JF, Enright S, Chhoeung S, Chan K. Refractive lens creation within an IOL using femtosecond laser. J Cataract Refract Surg. 2016;42(8):1207–1215.
  9. Abulafia A, Koch DD, Holladay JT, Wang L, Hill W. Astigmatism analysis standards for IOL surgery. J Cataract Refract Surg. 2018;44(10):1169–1174.
  10. Hayashi K, Manabe S, Hirata A, Yoshimura K. Corneal astigmatism changes during 20 years after cataract surgery. J Cataract Refract Surg. 2017;43(5):615–621.
  11. Koch DD, Ali SF, Weikert MP, Shirayama M, Jenkins R, Wang L. Contribution of posterior corneal astigmatism. J Cataract Refract Surg. 2012;38(12):2080–2087.
  12. Wang L, Koch DD. Toric calculator with predicted vs measured posterior corneal astigmatism. J Cataract Refract Surg. 2023;49(1):29–33.
  13. Day AC, Lau NM, Stevens JD. Nonpenetrating femtosecond intrastromal AK. J Cataract Refract Surg. 2016;42(1):102–109.
  14. Roberts HW, et al. LRI vs femtosecond arcuate keratotomy. J Cataract Refract Surg. 2018;44(8):955–963.
  15. Miyake T, et al. Long-term outcomes of toric IOL implantation. J Cataract Refract Surg. 2014;40(10):1654–1660.
  16. Wang L, et al. Crystalline lens and IOL tilt using swept-source OCT biometer. J Cataract Refract Surg. 2019;45(1):35–40.
  17. Kurian M, et al. Swept-source OCT biometry repeatability. J Cataract Refract Surg. 2016;42(4):577–581.
  18. Kane JX, Chang DF. IOL power formulas, biometry, and intraoperative aberrometry. Ophthalmology. 2021;128(11):e94–e114.
  19. Koch DD, Hill W, Abulafia A, Wang L. Classifying IOL calculation formulas. J Cataract Refract Surg. 2017;43(6):717–718.
  20. Melles RB, Holladay JT, Chang WJ. Accuracy of IOL calculation formulas. Ophthalmology. 2018;125(2):169–178.
  21. Melles RB, Kane JX, Olsen T, Chang WJ. Update on IOL calculation formulas. Ophthalmology. 2019;126(9):1334–1335.
  22. Christopher KL, et al. Post-myopic refractive surgery IOL formula accuracy. J Refract Surg. 2021;37(1):60–68.
  23. Wang L, Koch DD. IOL calculations after corneal refractive surgery. Ophthalmology. 2021;128(11):e121–e131.
  24. Zhao LQ, et al. Topical vs regional anesthesia for cataract surgery. Ophthalmology. 2012;119(4):659–667.
  25. Bowen RC, et al. Intracameral cefuroxime, moxifloxacin, vancomycin meta-analysis. Br J Ophthalmol. 2018;102(9):1268–1276.
  26. ESCRS Endophthalmitis Study Group. Prophylaxis of postoperative endophthalmitis. J Cataract Refract Surg. 2007;33(6):978–988.
  27. Nentwich MM, et al. Endophthalmitis incidence with povidone-iodine. J Cataract Refract Surg. 2015;41(1):58–66.
  28. Witkin AJ, et al. Vancomycin-associated HORV. Ophthalmology. 2017;124(5):583–595.
  29. Chang DF, Rhee DJ. Antibiotic prophylaxis survey. J Cataract Refract Surg. 2022;48(1):3–7.
  30. Riedel PJ. Ophthalmic viscosurgical devices. Focal Points. AAO; 2012, module 7.
  31. AAO. Cataract in the Adult Eye Preferred Practice Pattern. Ophthalmology. 2022;129(1):P1–P126.

T. Pemeriksaan kelengkapan

  • ☑ Highlights chapter
  • ☑ IOL technology
  • ☑ Table 7-1
  • ☑ Silicone/hydrophilic issues
  • ☑ Spherical aberration
  • ☑ UV/blue filter
  • ☑ Monofocal targets
  • ☑ Pseudophakic monovision
  • ☑ Multifocal IOL
  • ☑ EDOF
  • ☑ Table 7-2
  • ☑ Accommodating IOL
  • ☑ Adjustable IOL
  • ☑ Astigmatism epidemiology
  • ☑ Posterior cornea
  • ☑ SIA
  • ☑ Table 7-3
  • ☑ AK/LRI
  • ☑ Toric IOL
  • ☑ Table 7-4
  • ☑ Rotasi/tilt
  • ☑ Intraoperative aberrometry
  • ☑ AL
  • ☑ Optical biometry
  • ☑ Immersion A-scan
  • ☑ Silicone oil correction
  • ☑ Corneal power
  • ☑ ACD/ELP
  • ☑ SRK formula
  • ☑ Table 7-5
  • ☑ Modern formulas
  • ☑ Postrefractive calculation
  • ☑ IOL position
  • ☑ Table 7-6
  • ☑ Outcome tracking
  • ☑ Retrobulbar
  • ☑ Peribulbar
  • ☑ Sub-Tenon
  • ☑ Topical/intracameral
  • ☑ Facial block
  • ☑ Sedation/general anesthesia
  • ☑ Preop antimicrobial
  • ☑ Povidone-iodine
  • ☑ Intracameral antibiotic doses
  • ☑ Dropless surgery
  • ☑ OVD composition
  • ☑ OVD properties
  • ☑ Cohesive/dispersive
  • ☑ OVD uses
  • ☑ Informed consent
  • ☑ Error prevention/time-out
  • ☑ Red flags
  • ☑ Clinical pearls
  • ☑ Active recall
  • ☑ One-page review
  • ☑ Source references
Printed pages covered101–129
PDF pages30
Source tablesTables 7-1 sampai 7-6 direkonstruksi.
Source figuresFigures 7-1 sampai 7-13 dimasukkan dari PDF; Figure 7-14 direkonstruksi sebagai skema HTML.
Case studies/video/activityKeberadaannya dicatat secara konseptual; konten eksternal tidak ditambahkan karena tidak berada dalam PDF.
Penjelasan tambahanHanya mnemonik dan algoritma restrukturisasi; fakta klinis tetap berasal dari chapter.
Bagian tidak terbacaTidak ada bagian utama yang tidak dapat dibaca.